Bila Aku Sudah Dikuasai Ketakutan, Aku Jadi Lumpuh

April 12th, 2011



Share on Facebook

detail_img

Pada waktu itu, memang kakak saya bilang kalau mau berhasil saya harus sekolah di Jakarta. “Pokoknya Mas mau kamu sekolah di Jakart!” begitu kata kakak saya yang laki-laki. Jadi, saya turuti saja. Jadi ketika saya lulus SMP, saya ke Jakarta. Di Jakarta, saya mengulang pelajaran kelas 1 SMA agar nantinya saya bisa mengikuti kelas 2 IPA.

Keengganan saya dalam sekolah di Jakarta terbukti. Pada saat itu, saya punya jadwal mengikuti kelas Jerman. Tiba-tiba saja saya disuruh menjawab pertanyaan. Saya bilang, “Pak, saya benar-benar tidak bisa, karena saya belum pernah belajar bahasa Jerman.” kata saya pada guru yang mengajar. Saat itu saya diejek oleh teman-teman dan juga guru tersebut mengatakan bahwa kami semua diharuskan bisa.

Mulai saat itu, saya bertekad untuk mengejar ketinggalan saya. Saya rajin mengulang dan mempelajari pelajaran yang belum saya kuasai. Itu buat saya benar-benar beban karena waktu belajar saya juga tidak banyak. Bukan hanya itu, pergaulan saya pun jadi terbatas. Pernah suatu kali ketika saya mau pergi ke pesta ulang tahun, ketika saya hendak pamit, kakak ipar saya bilang, “Ya sudah, kalau sudah sampe sana, ambil kue langsung pulang saja.” Saya pikir, buat apa saya ke sana kalau gitu.

Saya tahu dia masih menganggap saya anak-anak waktu itu, tapi itu membuat saya stress, membuat saya tidak bebas. Menurut orang kan masa SMA itu masa yang paling indah, tapi menurut saya tidak. Memang kakak saya itu sayang, takut kalau saya brutal, tapi itu membuat saya jadi terkekang. Akhirnya saya hanya bisa diam dan memendam di dalam hati. Hal itu makin menambah beban pikiran saya.

Saat di tengah ujian masuk kuliah, rasa sakit yang luar biasa mulai mengganggu. Apalagi ternyata soal-soal yang diujikan adalah soal-soal waktu kelas 1 SMA. ‘Ini nih yang tidak saya suka,’ begitu pikir saya waktu itu. Akhirnya saya mulai sakit kepala. Tekanan agar bisa masuk kuliah mulai menyerang saya dan membuat kepala saya begitu sakit. Akhirnya ketika saya tidak diterima dimana-mana, itu seperti membuat cita-cita saya kandas.

Tiap kali batin tertekan, rasa sakit kepala itu menyerang saya. Mungkin buat saya, saya kan tidak ada teman, jadi kalau ada apa-apa, semuanya saya pendam sendiri. Paling tidak tiga hari pasti saya tergeletak. Bagi saya kalau sudah seperti itu, tidak makan malam juga tidak apa-apa, yang penting saya bisa istirahat tidur.

Bukan perhatian yang saya dapatkan tapi malah perkataan ketus dari sang kakak ipar yang saya terima. Saya merasa sangat sedih dan takut. Sakit kepala saya itu bukan sakit kepala biasa. Pokoknya kalau sudah mendera, saya tidak bisa pergi ke sekolah deh. Kakak ipar saya malah bilang, “Kalau sakit, ketok aja pake palu, kan selesai?”

Rini tetap berusaha menyenangkan kedua hati kakaknya. Suatu malam, saya berkeluh kesah pada kakak laki-laki saya. Saya tidak pernah dikasih uang sepeser pun untuk uang jajan atau transportasi. Jadi ketika malam itu kakak ada di rumah, saya memberanikan diri mengutarakan uneg-uneg. Seringkali saya harus lihat dulu bagaimana mood-nya kakak atau bagaimana perasaan dia. Kalau dia bisa didekati, baru saya dekati. Untuk minta ini, minta itu rasanya berat gitu sementara kebutuhan terus berjalan.

Protes saya tersebut ternyata berbuntut pertengkaran antara kakak dan istrinya. Untuk menebus kesalahan saya, sekuat tenaga saya menahan sakit di kepala yang semakin menjadi-jadi. Saya coba minum obat sakit kepala biasa, tapi tidak ada pengaruh.

Menyadari sakit migrain yang semakin parah, akhirnya saya ke rumah sakit bersama kakak saya. Sewaktu mengambil obat, saya tanya kepada kakak saya, “Mas, saya itu sebenarnya sakit apa sih?” Lalu kakak saya menjawab, “Sebenarnya kamu itu kena gangguan pada otak kamu, jadi kamu tidak bisa mikir. Itu karena kamu stress.”

Waktu saya dengar itu, air mata saya jatuh. Pantesan saya tidak bisa mikir, jadi digimanain juga tetap aja ga bisa mikir. Ada juga malah stress kan? Udah blank… Kenapa juga baru sekarang saya tahu, kalau sudah tahu dari awal kan ngapain juga dipaksain kuliah?

Di mata saya, rasanya tidak ada harapan lagi untuk memiliki masa depan. Keputusasaan dan intimidasi menghujam hati saya. Saya takut masa depan, takut mati juga. Kalau migrain, kan saya tidak bisa tidur. Di situ ada bisikan. “Udah, kamu bunuh diri aja, kamu bunuh diri aja.” Saya pikir lha saya takut mati kok malah disuruh bunuh diri? Saya akan kemana kalau bunuh diri?

Saya terus menyimpan kesedihan dan rasa sakit yang menyiksa, depresi yang hebat juga mengambil seluruh kehidupan saya. Memang turun dari tangga, tidak bisa jalan. Untung saya mengajak teman. Akhirnya di sana, saya pingsan.

Nasib buruk tetap saya alami. Ketika saya kemudian mengalami kelumpuhan, hubungan saya dengan kakak ipar saya mulai merenggang. Kakak ipar kan tidak mau ngomong saya, dia mendiamkan saya. Saya tambah beban lagi, sudah saya sakit tambah didiamkan. Kan saya makin tidak bebas. Mungkin sakit kepala saya ini bisa sembuh beberapa tahun kemudian, tapi bagaimana dengan kaki saya?

Saya sudah benar-benar putus asa. Dengan sebuah keberanian, saya menghubungi kakak yang lain. Kakak perempuan saya itu kemudian datang dan terkejut melihat keadaan saya. “Lho lho lho, kok kamu tidak bisa berdiri? Kok kamu seperti daging yang tidak ada tulangnya?” itulah tanggapan kakak saya waktu itu. Saat itu, saya pengen segera keluar dari rumah itu. Saya nggak usah kuliah dulu deh.

Berawal dari sebuah telepon dari seorang teman yang menyarankan agar saya didoakan, sebuah titik terang tampak di hadapan saya. Di rumah seorang hamba Tuhan, saya kemudian menceritakan isi hati saya untuk pertama kalinya. Saya ditantang oleh hamba Tuhan tersebut.

“Kamu mau sembuh?” katanya.

“Mau,” kata saya

“Kamu percaya?” Waktu ditanya itu, saya agak diam juga.

Lalu Pak Ferry Panjaitan berkata, “Saya juga sudah mengalami kesembuhan. Kalau kau rasakan sakit kau harus katakan begini, ‘Oleh bilur-bilur darah Yesus, saya sembuh. Itu hanya perasaan daging’,” katanya. Itulah yang saya katakan.

Untuk kedua kalinya, saya kembali ditantang. Saat itu, saya mulai memiliki keyakinan untuk sembuh. Sebuah mukjizat pun terjadi. Saya ditantang untuk dapat berjalan. Waktu itu saya berusaha agar bisa berjalan. Waktu disuruh lompat, saya mencoba melakukannya dan saya berhasil. Kenapa nggak dari dulu ya ketemu dengan Tuhan Yesus ya?

Saya semangat banget. Setiap hari saya terus mencoba berjalan walau untuk berdiri selama 5 menit saja saya tidak sanggup. Tapi saya tetap berlatih seakan ada suatu kekuatan baru. Kesembuhan itu membawa perubahan total dalam kehidupan saya. Saya bahkan mengambil keputusan untuk mengampuni kakak dan kakak ipar saya.

Memang dulu sebelum saya terima Tuhan Yesus, saya takut masa depan, saya takut mati. Tetapi, setelah saya mengenal Yesus, saya tahu hidup itu indah. Tuhan ijinkan masalah itu terjadi untuk memproses saya untuk semakin dewasa dalam iman kepada Tuhan. Dan saya tahu bahwa di dalam masalah itu, ketika kita mengucap syukur, ada mukjizat dan kuasa yang terjadi dan itu yang saya alami.

Kini bersama suami dan anak saya, saya merasakan kehidupan yang luar biasa tanpa dibayangi penyakit apapun. Buat saya, Tuhan Yesus itu dashyat luar biasa dan membuat saya ingin mengenal kasih-Nya lebih lagi dan saya juga rindu Tuhan Yesus terus ada menyertai kehidupan saya. (Kisah ini ditayangkan pada acara Solusi Life di O Chanel tanggal 6 April 2011)

Sumber Kesaksian :

Djawa Rini

Kalau anda menyukai artikel ini, tolong klik “Share On Facebook” di bawah ini sehingga kawan – kawan anda juga bisa menikmatinya. Terima kasih banyak.



Share on Facebook

TOPIK TERKAIT - [RELATED POST]

Categories: Agama, Kesaksian Hidup, Motivasi

Tags: , , , Leave a comment

Leave a comment

Feed

http://serbamenarik.com / Bila Aku Sudah Dikuasai Ketakutan, Aku Jadi Lumpuh